Senin, 03 Februari 2014

budaya mudik


Mudik adalah kegiatan perantau/ pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Kata mudik berasal dari sandi kata bahasa Jawa ngoko yaitu mulih dilik yang berarti pulang sebentar. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua. Tradisi mudik muncul pada beberapa negara berkembang dengan mayoritas penduduk Muslim, seperti Indonesia dan Bangladesh

Angkutan mudik

Beban yang paling berat yang dihadapi dalam mudik adalah penyediaan sistem transportasinya karena secara bersamaan jumlah masyarakat menggunakan angkutan umum atau kendaraan melalui jaringan jalan yang ada sehingga sering mengakibatkan penumpang/pemakai perjalanan menghadapi kemacetan, penundaan perjalanan.
Mudik di Indonesia sering kali diadakan saat hari raya tiba, seperti hari raya idul fitri. Mudik berkaitan akan bertemunya dengan sanak keluarga di kampung halaman. Mudik yang telah menjadi tradisi tahunan di masyarakat Indonesia, meskipun keadaan lalu lintas padat, cuaca panas, jarak tempuh dengan kampung halaman yang jauh. Tidak mensurutkan tekad mereka yang akan mudik ke kampung halaman. Mudik tidak hanya dilakukan oleh masyarakat yang memiliki kantong tebal saja, namun berlaku juga bagi masyarakat pinggiran yang mengadu nasib di kota-kota besar.
Ada berbagai cara bagi masyarakat Indonesia untuk melakukan mudik ke kampung halaman, ada yang mengendarai sepeda motor, naik kapal, mobil pribadi dll. Berbagai cara dilakukan masyarakat untuk bertemu sanak keluarga di kampung halaman. Dari sampai rela antre untuk menyewa kendaraan bermotor, dan rela antre dalam membeli tiket untuk mudik.
Dari segi keuangan, juga banyak yang perlu diperhatikan, seperti membeli tiket atau bensin, uang makan saat di perjalanan, saat berada di kampung halaman. Dan tak kalah penting juga, kita harus menyisihkan uang kita untuk suatu ketika ada kejadian yang tidak diinginkan terjadi.
Mudik di Indonesia juga erat kaitannya dengan hari raya Idul fitri (sungkem kepada orang tua) agar dapat terjalin silaturahmi antar generasi di dalam kelompok keluarga tersebut. Mudik yang telah lama menjadi tradisi di masyarakat kita, menjadikannya suatu keharusan untuk melakukan mudik.
Kemacetan adalah hal yang sering kita lihat saat mudik berlangsung. Namun bagi para pemudik hal itu bukanlah menjadi suatu hambatan, melainkan menjadi suatu hal yang tak terlupakan. Dapat bertemu sanak keluarga menjadikan hal yang tak terlupakan berikutnya. Tradisi mudik tahunan ini meski macet, dan cuaca panas mudik akan tetap dilakukan oleh masyarakat Indonesia.
Namun yang terpenting, keselamatan para pemudik di jalan dan dapat sampai dirumah dengan selamat. Menjalani perjalanan mudik dengan aman dan nyaman merupakan contoh yang patut ditiru oleh keseluruhan pemudik, agar tercipta mudik yang aman dan nyaman bagi semua pengguna jalan.
Semenjak menikah dengan mojang Bandung, saya merasakan asyiknya mudik. Senang benar bisa mudik ke kampung halaman sambil menikmati suasana lebaran, dan liburan sekolah. Tak terasa, hampir setiap tahun semenjak tahun 1998 saya merasakan nikmatnya mudik. Kegiatan mudik pun kini telah menjadi budaya hidup saya dan juga penduduk Indonesia. Pokoknya, kalau tidak mudik, tidak asyik lah! Ada yang terasa hilang dalam diri dan keluarga. Meskipun kita harus mengalami suka dan duka dalam perjalanan menuju kampung halaman. Uangpun melayang cepat dari dompet yang tertutup rapat.
Seorang tetangga saya bercerita tentang pengalaman mudiknya. Sebut saja namanya pak Yono. Setiap lebaran atau menjelang lebaran Beliau pulang ke kampung halamannya di Yogyakarta dengan menumpang kereta api. Kata beliau, meskipun kereta api penuh sesak dengan penumpang, mereka asyik saja. Sebab kelelahan selama dalam perjalanan akan terasa hilang bila sudah sampai kampung halaman. Tak peduli bau Apek dan bau kencing di sekitar kereta. Sudah selamat sampai tujuan, sudah menjadi berkah tersendiri. Baginya, berlebaran di kampung halaman akan menjadi kenangan tersendiri.
Lain lagi cerita teman kerja saya. Sebut saja pak Oteh. Dia naik pesawat terbang untuk pulang ke kampung halamannya di medan. Bandara penuh sesak dengan calon penumpang. Jadwal penerbangan padat sekali. Banyak orang berlalu lalang di sekitar bandara. Ada yang sudah mendapatkan tiket, tetapi ada juga yang belum mendapatkannya. Kalau sudah begitu, harga tiket pesawat melambung tinggi. namun, demi untuk berjumpa dengan sanak saudara di kampung halaman, harga selangit tak apalah. Berkumpul dan berjumpa dengan sanak family jauh lebih tinggi nilainya daripada harga sebuah tiket.
Lain pak Oteh, lain pula pak Gembul. Dia mudik ke kampung halaman menggunakan jasa kapal laut. Jauh-jauh hari sudah pesan tiket kapal laut. Di benaknya, puylang ke makasar dengan biaya murah ya hanya dengan kapal laut. Selain itu, dia ingin menikmati indahnya lautan. Ombak dan badai tak dipedulikannya, kapal-kapal kita sekarang ini, sudah banyak berbadan besar dan mampu mengatasi gelombang lautan yang tinggi. Buat mereka yang tak terbiasa, pasti akan ngeri dibuatnya. Saya menjadi ingat sewaktu ke lampung. kami naik kapal fery untuk menyeberak dari pelabuhan merak menuju pelabuhan Bakauhuni. Wah senang sekali naik kapal laut. baru terasa sekarang kalau negera kita adalah negara kepulauan, dimana luas lautan lebih besar daripada luas daratan.
Di saat mudik seperti sekarang ini, kami tak menggunakan jasa kereta api, kapal laut maupun pesawat terbang. Kami cukup lewat jalan darat saja. Perjalanan ke kota bandung tidaklah lama dengan naik mobil. Dengan adanya tol purbalenyi atau cipularang, saat ini bandung jakarta serasa dekat. malah kalau mau jujur, perjalanan dari bekasi ke bandung lebih cepat daripada dari bekasi ke jakarta mangga dua, hehehe.
Di saat mudik memang terasa asyik. Kami yang biasanya terpisah dari kesibukan sehari-hari, kini menyatu dalam sebuah mobil. Ini baru terasa keluarga namanya. Dimana ayah, ibu, dan anak-anaknya berkumpul dan berangkat bersama. Itulah yang saya alami ketika kami mudik menengok orang tua dari istri di kota bandung.
Kegiatan mudik tak terasa sudah menjadi tradisi kami sekeluarga setiap tahunnya. Kami saling bersilahturahim ke anggota atau sanak family yang lainnya. Mudik di kampung halaman memang asyik, saya melihat banyak sekali mobil berplat jakarta hilir mudik di kota bandung dan sekitarnya. Ketika saya diajak oleh kaka ipar untuk mengunjungi kampungnya di hari lebaran, barulah terlihat dengan jelas, mobil-mobil pribadi berplat jakarta berseliweran dengan gagahnya di jalanan menuju kota garut. Kota dodol yang saya suka dengan air hangatnya. Kolam air hangat di Cipanas garut menjadi tempat kami sekeluarga untuk berlibur menikmati suasana lebaran, dan liburan sekolah.
Liburan menjelang lebaran tahun ini memang asyik. Selain bisa mudik dengan mobil avanza baru dengan fasilitas full AC dan Full musik, membuat mudik terasa semakin asyik. Itulah yang saya alami sendiri. Apalagi bila anda mudik dengan bintang pujaan anda. Tentu akan lebih asyik lagi. Anda bisa saja mudik bareng bersama group band ST12 yang terkenal itu. Di dalam mobil, anda menikmati mereka bernyanyi membawa tembang-tembang emas mereka. Kalau sudah begitu, serasa benar kalau mereka mudik bersama kita sekeluarga.
Pengalaman saya setiap tahun mudik itu ceria sekali. Selama perjalanan mudik dari Bekasi ke Bandung, dari Bandung ke Garut, dan dari Garut ke Tasikmalaya, saya merasakan benar hal-hal yang luar biasa. Apalagi bisa mudik asyik bersama ST12. Menikmati lagu-lagu mereka sepanjang perjalanan dan bermimpi seolah-olah omjay memiliki suara emas seperti Charlie, vokalis ST12  yang memiliki suara emas itu.
Entah kenapa, saya juga tidak tahu. Di dalam mobil saya itu cuma ada kaset ST12 dan tidak ada kaset lainnya. Ketika saya tanya kepada istri kenapa cuma satu kaset yang ada di dalam mobil, istri saya menjawab dengan enteng alias meminjam istilah plesetan mas budiman Hakim, “Khan kita mau mudik asyik bersama ST12″, hehehehe.
Mudik asyik bersama ST 12 membuat kami sangat menikmati perjalan mudik kami. Anak-anak saya dan anak-anak dari kakak ipar saya sangat senang sekali menyanyikan lagu-lagu ST12 yang lagi populer ini. Sayapun yang biasanya suka musik dangdut dan nasyid jadi ikut-ikutan juga menyukai lagu-lagu ini. Indah di telinga, nyaman di hati. Apalagi lagu-lagu cinta dan religinya sangat menyentuh hati yang paling terdalam. Memuji kecantikan seorang wanita dan memuji kebesaran Allah.
Tanpa saya sadari, sepanjang perjalan mudik itu saya merasakan benar keindahan karya-karya group band ST 12 ini. Group band aliran melayu yang berasal dari kota bandung yang sangat terkenal saat ini. Lewat lagu-lagunya yang enak di dengar di telinga dan memiliki gaya khas melayu membuat kami sangat menikmati lagu Isabella, Memujamu, kebesaranmu, cari pacar lagi, dan lain-lain. Lewat tembang emas mereka, grup band ini masuk dalam grup band papan atas negeri ini. Menjadi group band dengan jumlah penggemar cukup banyak. Salah satunya, saya, hehhehe.
Mudik Asyik bersama ST12 menemani hari-hari perjalanan mudik saya bersama keluarga tercinta. Menyusuri panjangnya jalan dan kemacetan lalu lintas yang kami temui. Dengan adanya lagu-lagu dari ST12 itu mudik lebaran serasa asyik. tanpa terasa, budaya mudik di Indonesia, kini juga telah menjadi budaya musik di Indonesia. rasanya tak enak bila dalam perjalanan mudik tak menikmati musik.
Budaya mudik di Indonesia, nampaknya akan terus ada di bumi ibu pertiwi. Roda-roda perekonomian untuk sesat pindah ke desa-desa. Kampung halaman yang tadinya sunyi, kini telah dipenuhi oleh para warganya kembali yang telah merantau cukup lama. bagi saya, mudik memang asyik. Apalagi dengan musik, hehehe.

Budaya Mudik dan Dampak Positifnya

Fenomena pulang kampung (mudik) pada saat Idul Fitri telah menjadi peristiwa budaya dan keagamaan yang sangat semarak. Menjelang Idul Fitri 1433 H, menurut Suroyo Alimoeso, Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan RI, diprediksi jumlah pemudik mencapai 16 juta jiwa.

Besarnya jumlah pemudik yang puncaknya diperkirakan dua-tiga hari menjelang Idul Fitri, telah menimbulkan permasalahan yang tidak mudah dipecahkan. Karena dalam waktu yang hampir bersamaan puluhan juta orang melakukan perjalanan mudik, melalui darat dengan kendaraan sepeda motor, mobil, kendaraan umum (bus) dan kereta api, serta udara dengan pesawat terbang, dan laut dengan kapal laut. Permasalahan yang ditimbulkan dari mudik antara lain:

Pertama, banyak kecelakaan lalulintas. Dari tahun ke tahun, terus meningkat angka kecelakaan. Tahun ini H-9 dan H-8 (Sabtu 11/8 dan Minggu 12/8), menurut Data Kepolisian Republik Indonesia telah meninggal sebanyak 88 orang. Kecelakaan paling banyak ialah pengendara sepeda motor. Faktor kecelakaan banyak disebabkan oleh faktor manusia, kendaraan, jalan raya, dan cuaca. Walaupun angka kecelakaan tinggi, para pemudik tidak takut dengan bahaya yang mengancam.

Kedua, berutang dan menggadaikan barang demi mendapatkan uang untuk biaya mudik. Ini merupakan permasalahan dan tantangan yang setiap tahun dijalani sebagian pemudik. Demi mudik ke kampung halaman, mereka berutang dan menggadaikan barang.

Ketiga, biaya perjalanan meningkat berlipat kali, karena semua moda transportasi menaikkan biaya menjelang dan sesudah lebaran Idul Fitri. Karena itu para mudik sebagian besar menggunakan kendaraan sepeda motor, walaupun tingkat kecelakaan sangat tinggi dari tahun ke tahun.
Tujuan Mudik

Beratnya tantangan yang dihadapi para pemudik, tidak pernah menyurutkan niat dan kemauan mudik ke kampung halaman. Paling tidak ada lima alasan yang menjadi tujuan para pemudik pulang kampung. Pertama, dorongan keagamaan yang telah menjadi budaya. Begitu kuat tarikan keagamaan yang telah menjadi budaya, karena Islam mengajarkan bahwa mereka yang sudah berpuasa akan diampuni dosa-dosanya. Akan tetapi, yang diampuni hanya dosa di hadapan Allah, sedang dosa kepada orang tua, saudara kandung, tetangga dan sekampung, tidak akan diampuni kecuali saling bermaaf-maafan dengan jabat tangan melalui silaturahim antara satu dengan yang lain.

Kedua, ziarah ke kubur. Telah menjadi budaya di kalangan masyarakat bahwa menjelang puasa Ramadan dan Idul Fitri, anak-anak, menantu, keluarga dan famili pergi berziarah ke kubur orang tua, kakek, nenek dan leluhur serta keluarga terdekat sambil mendoakan. Itu tidak mungkin dilakukan kalau tidak mudik. Bagi mereka yang berasal dari kampung. Maka dalam kesempatan Idul Fitri dilakukan ziarah ke kubur, selain silaturahim.

Ketiga, rindu kampung halaman. Setiap tahun kerinduan kepada kampung halaman selalu diobati dengan mudik. Ini adalah fenomena sosial yang menarik sebagai makhluk sosial, rindu kepada asal usulnya di kampung halaman. Oleh karena itu, tantangan berat yang dihadapi untuk pulang kampung, tidak menjadi persoalan, mereka tetap lakoni dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan.

Keempat, bernostagia di kampung halaman. Masa kecil di kampung halaman adalah masa-masa yang paling indah dan menyenangkan. Maka setiap tahun, kenangan indah itu, selalu ingin diperbaruai dengan pulang kampung sambil membawa keluarga seperti anak, menantu dan istri supaya ikut menghayati suasana kampung di masa dahulu.

Kelima, unjuk diri kesuksesan di perantauan. Hal itu, ikut juga mewarnai perasaan sebagian pemudik untuk pulang kampung. Budaya pamer berlaku kepada semua tingkatan sosial. Maka momentum Lebaran, pulang kampung dengan niat yang bermacam-macam, salah satu adalah unjuk diri (pamer).

Dampak Negatif Mudik

Mudik Lebaran yang sudah menjadi budaya, diakui atau tidak, mempunyai dampak negatif. Pertama, konsumerisme, pamer kemewahan, boros dan berbagai perilaku yang tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran Islam dan tujuan puasa itu sendiri. Di mana hasil puasa selama sebulan penuh, seharusnya semakin menghadirkan ketakwaan yaitu kedekatan kepada Allah dan sesama manusia yang sebagian besar masih mengalami kesulitan hidup. Mereka masih dihimpit kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.
Kedua, bisa mengundang cemburu dan iri hati para penduduk kampung.
Pulangnya para pemudik untuk berlebaran di kampung halaman, dengan memamerkan kemewahan misalnya mobil yang bagus, baju dan sepatu yang baru, bisa menimbulkan 'cultural shock' (goncangan budaya). Di mana orang-orang kampung atau desa meniru dan mengikuti cara hidup orang kota yang pulang kampung, misalnya berutang dan atau menjual harta benda seperti tanah untuk membeli motor, mobil dan sebagainya sebagai asesori kemewahan.

Bisa juga orang-orang kampung terutama anak-anak muda, laki-laki dan perempuan merantau, dalam rangka mengikuti jejak para pemudik. Untuk mendapatkan harta dan kemewahan, mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang dan harta, supaya tahun berikutnya, mereka juga bisa mudik dan menampilkan kekayaan dan kemewahan seperti saudara-saudaranya yang mudik tahun lalu.

Ketiga, memacu urbanisasi dan migrasi. Mudik Lebaran, juga bisa berdampak negatif yang memacu peningkatan urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari kampung atau desa ke berbagai kota di Indonesia. Selain itu, juga dapat mendorong meningkatnya migrasi, yaitu perpindahan penduduk dari satu negara ke negara lain. Dalam sejarah mudik Lebaran, sudah terbukti bahwa usai mudik lebaran, semakin banyak orang kampung yang melakukan urbanisasi, meninggalkan kampung halamannya untuk mencari kehidupan di kota.

Sebenarnya peristiwa urbanisasi dan migrasi adalah sesuatu yang lumrah dalam kehidupan modern, dan merupakan hak asasi setiap orang yang dijamin dan dilindungi oleh hukum dan undang untuk melakukan sesuai yang diinginkan. Akan tetapi, urbanisasi dan migrasi ke negara lain misalnya ke negeri jiran Malaysia, dan Arab Saudi, banyak menimbulkan masalah, karena mereka yang melakukan urbanisasi dan migrasi ke negara lain, tidak memiliki pendidikan dan kepakaran (skill) yang memadai. Akibatnya untuk bertahan hidup di kota atau di negara lain, mereka terpaksa melakukan berbagai perbuatan yang bertentangan dengan hukum seperti menjadi penjual seks, peminta-minta, bahkan pencuri dan perampok.



Dampak Positif Mudik

Mudik Lebaran, di samping menimbulkan dampak negatif, juga banyak dampak positifnya. Pertama, dampak ekonomi. Mudik para perantau telah menimbulkan dampak positif bagi ekonomi di kampung halaman. Mereka pulang dengan membawa uang dan berbelanja telah mendorong perputaran ekonomi yang tinggi di kampung, sehingga para petani, nelayan dan pemerintah daerah mendapat manfaat ekonomi. Mereka menyewa hotel dan penginapan, telah mendorong kemajuan kampung halaman karena membuka dan memajukan bisnis penginapan dan hotel. Belum lagi, pemudik memberi sedekah, zakat fitrah dan zakat harta (mal) kepada keluarga dan penduduk di kampung halaman mereka.

Kedua, silaturahim (hubungan kasih sayang) antara pemudik dan penduduk kampung terbangun kembali, yang selama hampir satu tahun tidak pernah bertemu. Ini sangat positif untuk memelihara, merawat dan menjaga bangunan kebersamaan satu kampung.
Ketiga, persatuan dan kesatuan terjaga dan terpelihara. Bangsa Indonesia yang amat tinggi rasa keagamaan (religiusitas)-nya, telah memberi andil yang besar untuk menjaga, merawat dan memupuk rasa persatuan dan kesatuan seluruh bangsa Indonesia melalui medium silaturahim Idul Fitri. Hal ini, tidak bisa dinilai dengan pengorbanan harta dan tenaga yang dilakukan para pemudik.

Keempat, pengamalan agama. Peristiwa mudik Lebaran, juga mempunyai dampak positif dalam pengamalan ajaran Islam. Karena di tengah kemajuan yang membawa manusia kepada perilaku individualistik, yang enggan berhubungan dengan pihak lain dan merasa terganggu, melalui medium silaturahim Idul Fitri dalam rangka hubungan manusia (hablun minannaas) tetap diamalkan, dan bahkan telah menjadi budaya seluruh bangsa Indonesia.

Kelima, secara sosiologis, mudik Lebaran mendekatkan si perantau yang sudah sukses dengan mereka yang masih berdomisi di kampung halaman seperti orang tua, famili dan teman-teman. Peristiwa mudik, bisa memperbaharui kembali hubungan sosial dengan masyarakat sekampung, yang tentu berdampak positif dalam memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

Kesimpulan

Peristiwa mudik Lebaran yang telah menjadi budaya, harus terus dipelihara, dijaga dan dilestarikan, karena dampak positifnya lebih banyak ketimbang dampak negatifnya. Yang harus dilakukan ialah mengurangi dampak negatif mudik dengan melakukan, pertama, meningkatkan kesadaran para pemudik bahwa keselamatan dalam perjalanan mudik adalah segalanya.

Mereka yang akan mudik, dan sedang dalam perjalanan mudik, diharapkan semakin hati-hati menjaga keselamatan. Jangan memaksakan diri dalam perjalanan, harus berhenti dan beristirahat secukupnya baru melanjutkan lagi perjalanan.

Pada tahun-tahun mendatang, mudik dengan kendaraan bermotor secara bertahap harus dihentikan dengan menitipkan kendaraannya di kapal laut, dan kereta api untuk diantar ke kampung halaman. Suami istri, dan dan anak-anak, sebaiknya memilih kendaraan umum, kereta api atau kapal laut untuk keselamatan dalam perjalanan mudik. Kedua, pemerintah harus terus meningkatkan penyediaan transportasi massal untuk melayani pemudik. Selain itu, berbagai perusahaan yang peduli pemudik, dari jauh hari harus bekerja sama dengan media untuk memberitahu masyarakat tentang adanya penyediaan fasilitas mudik.

Ketiga, para pemudik harus membuat perencanaan. Paling kurang tiga bulan sebelum mudik sudah memesan tiket dan menghubungi perusahaan atau organisasi yang biasa menyelenggarakan mudik bareng secara gratis.

Keempat, pemerintah terutama Kementerian Pekerjaan Umum RI, sudah saatnya membuat jalan yang berkualitas tinggi untuk jangka waktu yang panjang. Jangan seperti sekarang, setiap tahun jalan raya yang dilalui pemudik dilakukan tambal sulam dan tidak pernah baik.

Kelima, sudah saatnya seluruh bangsa Indonesia terutama para pemudik meningkatkan disiplin dalam berlalu lintas. Pada saat yang sama, aparat kepolisian sebagai aparat penegak keamanan, menindak mereka yang tidak disiplin dalam berlalu lintas.

Semoga semangat mudik Lebaran mendorong seluruh bangsa Indonesia untuk mengambil hikmah yang positif dan negatif dari peristiwa mudik, demi perbaikan di

Tidak ada komentar:

Posting Komentar