Rabu, 16 Oktober 2013

Miss World 2013

Miss World adalah kontes kecantikan internasional yang diprakarsai oleh Eric Morley pada tahun 1951 dan pertama kali diadakan di Inggris. Setelah kematiannya pada tahun 2000 istrinya menggantikannya dan melanjutkan kontes miss world

Sama seperti miss universe dan miss earth,kontes miss world juga dikenal oleh masyarakat umum

Pemenang Miss world tinggal di inggris selama masa baktinya dan juga keliling dunia sesuai program dari miss world

miss world tahun 2013 merupakan edisi ke-63, yang diadakan pada tanggal 28 September 2013 di Bali tepatnya di Nusa dua, Indonesia ,pembawa acara pada malam puncak adalah Kamal Ibrahim, Daniel Mananta, Amanda Zevannya, Myleene Klass dan Steve Douglas.

Di akhir acara, Miss World 2012, Yu Wenxia dari Republik Rakyat Cina memberi mahkota miss world 2012 kepada Megan Young yang berasal dari filipina sebagai Miss World 2013.



Pro dan Kontra tentang miss world:

menurut saya pribadi saya tidak mempermasalahkan kontes tersebut asalkan masih mengikuti aturan dan norma-norma yang berlaku di masyarakat, di indonesia norma dan aturan yang berlaku sangat banyak di karnakan indonesia adalah negara yang heterogen.

Seperti yang kita ketahui kontes ini banyak di kenal warga sebagai kontes bikini karna adanya salah satu acara miss world yang bertemakan pakaian renang atau bikini dan ini sangat bertentangan dengan budaya indonesia

Sudah banyak beberapa kalangan masyarakat yang mencekal kegiatan miss world karna dari pola pikir keagamaan itu termasuk kegiatan yang dilarang tuhan karna memamerkan aurat, sebagai orang yang mengetahui adanya acara ini kita wajib menolaknya ataupun mencegahnya.

Memang acara bisa tetap berjalan jika panitia acara mengganti atau menghilangkan aturan yang menggunakan pakaian sexy tersebut.

Mereka harusnya malu untuk menunjukan bagian tubuhnya yang tidak boleh untuk di lihat orang lain apalagi dilihat lawan jenis

Setelah saya tanya kepada beberapa teman saya apakah mereka pro atau kontra hasilnya mereka banyak yang menjawab kontra tetapi ada juga yang pro, mereka memilih pro karna alasan memajukan tempat wisata yang ada di negaranya. 


Penyelenggaraan kontes kecantikan Miss World 2013 terus menuai pro dan kontra.  Ormas Islam dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara tegas menolak  Indonesia menjadi tuan rumah Miss World.

Aksi unjuk rasa menolak penyelenggaraan kontes Miss World pun bergulir deras. Akibat derasnya aksi penolakan terhadap penyelenggaraan Miss World itu, malam final kontes ratu kecantikan itu tak jadi digelar di Bogor, Jawa Barat. Miss Wolrd pun digelar di Bali.

MUI pun mengkritisi kebijakan pemerintah yang memindahkan penyelenggaraan Miss World  ke Bali.  Pemerintah pun  dinilai tidak mendengarkan anjuran MUI. Apa yang rekomendasikan MUI ke pemerintah adalah membatalkan sama sekali penyelenggaran Miss World di Indonesia, bukan melokalisirnya di Bali.

Ketua MUI Pusat Bidang Seni dan Budaya KH Cholil Ridwan mengatakan, sepertinya pemerintah tidak menghargai dan mendengarkan lagi nasihat MUI sebagai mitranya.

"Yang kita sarankan itu membatalkan bukan memindahkan, tapi membatalkannya," ujarnya.

Ada yang kontra namun ada pula yang pro. Jeffrie Geovanie, Board of Advisor CSIS,  justru menyesalkan keputusan pemerintah yang memindahkan acara malam final Miss World dari Bogor ke Bali.

'Sangat disesalkan karena menunjukkan betapa lemahnya pemerintah terhadap tekanan-tekanan dari pihak yang kontra pada acara Miss World,'' ungkap Jeffrie.  Menurut dia, pemerintah seharusnya belajar dari Gubernur Jakarta, Jokowi yang tetap kokoh mempertahankan Lurah yang ditolak hanya karena agamanya bukan agama mayoritas. Jeffrie menilai, setelah 2014 Indonesia membutuhkan  kepemimpinan model kepemimpinan Jokowi di Jakarta.

Fajar Riza Ul Haq, direktur eksekutif Maarif Institute juga menyesalkan cara pemerintah menghadapi polemik penyelenggaraan Miss World.

 ''Jalan keluar yang diambil mencerminkan pemerintah tidak bertanggung jawab terhadap keputusannya sendiri. Padahal pemerintah telah jauh-jauh hari memberikan ijin kegiatan Miss World di Jakarta dan Sentul, Bogor," cetusnya.

Fajar juga menilai ketidaksiapan kepolisian untuk memberikan jaminan keamanan di luar Bali merendahkan wibawa aparat negara. ''Kasus ini menambah bukti bahwa memang pemerintah selalu gagal keluar dari bayang-bayang tekanan ideologis atas nama mayoritas,''  tuturnya.

Terkait polemik ini, Menteri Agama Suryadharma Ali membantah bila sikap pemerintah terpecah atas penyelenggaraan Miss World di Indonesia. Ini mengingat di satu sisi pemerintah memberi izin penyelenggaraan. Namun di sisi lain, juga meminta untuk dibatalkan.

Menurutnya, pemberian izin dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Gubernur Bali. Termasuk prosedur pengamanan dari kepolisian.

Sementara Kementerian Agama meminta penyelenggara mendengarkan saran Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk membatalkan ajang kecantikan ini. "Pemerintah tidak terpecah, tetapi berbicara sesuai dengan porsinya," ujar Menag.

Selaku Menteri Agama, kata dia, pendapat yang perlu didengar atas hal ini adalah MUI. Namun, kementerian yang lain tentu memiliki pandangan yang berbeda.

“Ada sebuah polemik terjadi di saat ada Ibu sibuk ke salon “ngikutin trend Miss World”, dan ada Ibu lain yang bingung mencari biaya berobat untuk anaknya”. (Rakyat)
Kontes Miss World 2013 yang telah dibuka di Nusa Dua, Bali, pada Minggu (8/9/2013) dan disiarkan secara langsung di 160 negara seluruh dunia. Jumlah ini memecahkan rekor sebelumnya yang hanya live di 120 negara. Pada malam pembukaan tersebut, dipentaskan sajian-sajian beragam pertunjukan kebudayaan Indonesia mulai dari Tari Kecak hingga Tari Kipas Cendana yang akan dibawakan oleh 16 kontestan Miss World. Luar biasa!!
Perhelatan kontes kecantikan dan ratu sejagad Miss World ke-63 tahun 2013 “tentunya” akan menjadikan Indonesia menjadi sorotan dunia. Sebab, untuk pertama kalinya, Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia ini akan mencatatkan dirinya sebagai negara penyelenggara kontes kecantikan Miss World. Dan juga Indonesia mencatat sejarah sebagai penyelenggara Miss World 2013 ini menjadi ajang “pemboyong ratusan wanita terbaik” dan terbanyak dari berbagai negara.
Meski pembukaan berjalan lancar “luar biasa”, namun final yang semula direncanakan digelar di Jakarta terancam batal karena adanya penolakan sejumlah pihak. Apakah ini menjadi kebanggaan? Atau sebuah kemunduran kebudayaan? Itu hanyalah pertanyaan “iseng” penulis untuk mencoba “merangsang” syahwat berpikir dalam menyikapi persoalan Pro kontra tentang Miss World ini.
Memang itulah yang disebut dengan Pro dan kontra, karena meski sudah mengantongi izin resmi dan mendapat dukungan dari masyarakat Indonesia, ada pihak-pihak yang menyayangkan kontes Miss World digelar di Indonesia. Sejumlah organisasi masyarakat Islam ramai-ramai memprotes Miss World ini. Front Pembela Islam (FPI) bahkan berkehendak mendesak “membubarkannya”. Alasannya kontes itu tak sejalan dengan nilai-nilai Islam. Tak hanya FPI yang menolak, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun menyerukan penolakan kontes Miss World digelar di Bali, dengan alasan kontes tingkat dunia itu sangat bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan dan mengumbar aurat sehingga dapat menimbulkan maksiat. MUI juga membantah bahwa penyelenggaraan Miss World dapat memberi keuntungan untuk pariwisata Indonesia, seperti mendatangkan wisatawan mancanegara. Pun demikian pendapat dari Komite Indonesia untuk Pemberantasan Pornografi dan Pornoaksi. Yang menganggap kontes Miss World ini bagaimana “Perempuan hanya dijadikan komoditas dan Merendahkan kaum perempuan”. Dan katanya kontes kecantikan itu tak sejalan dengan nilai-nilai budaya bangsa.
Banyak yang menentang, memang. Tapi tak sedikit yang mendukung. Contohnya dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Dengan alasan setiap orang berhak mengembangkan diri. Dan keputusan Indonesia menjadi tuan rumah kontes kecantikan tingkat dunia itu harus dihargai. Kalau itu meninggikan citra Indonesia di mata dunia, kenapa tidak?. Dalam pandangan HAM, sebaiknya masyarakat saling menghargai hak masing-masing. Jangan ada pemaksaan kehendak, apalagi yang dicapai dengan cara-cara kekerasan.
Konon katanya, menurut dari berbagai sumber, Miss World adalah suatu ajang pencarian ratu sejagad. Dan penilaiannya dengan 3 indikator utama, yaitu kecantikan, kepribadian, dan kepandaian. Ketiga indikator tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya dalam ajang ini. Selain itu, Miss World pun tidak mengesampingkan kebudayaan dari masing-masing negara peserta serta sisi kemanusiaan. Setiap kontestan dituntut untuk mempertontonkan kemampuan yang dimilikinya dengan mengusung kebudayaan negara asalnya. Para peserta pun dituntut untuk melakukan suatu kegiatan sosial yang didokumentasikan untuk dijadikan salah satu poin penilaian dalam kontes kecantikan ini.
Catatan Kritis
Menurut penulis, ada beberapa catatan kritis tentang Pro kontra Miss World 2013 ini:
Kesatu, penulis berharap agar semua pihak “jangan lebay” atas polemik Miss World ini. Seyogyanya, semua elemen bangsa kembali berfokus pada sejumlah masalah krusial bangsa yang sebenarnya lebih esensial bagi nasib masyarakat. Penulis sedikit miris melihat prokontra soal Miss World ini, karena telah menggeser isu-isu lain yang penting buat rakyat. Misalnya dari kasus korupsi Wisma Atlet dan Hambalang, isu kenaikan harga kebutuhan pokok, kedelai, “Gurita Korupsi Migas” dan lain-lain. Ingat!! Jauh lebih substansial bagi bangsa Indonesia untuk membicarakan serta mengkritisi bagaimana buruknya manajemen negara terhadap nasib rakyat yang tertindas, tidak mampu memenuhi hak mendasar warga atas pendidikan dan kesehatan yang layak.
Kedua, penulis tidak sepakat dengan tindakan sejumlah kelompok yang bergaya seolah “polisi moral”, tetapi di sisi lain ingin mengkritisi pendapat yang mendukung Miss World ini seakan-akan sedemikian pentingnya untuk menonton”kontes ratu sejagat”. Dalam konteks ajang Miss World ini, atas nama kebebasan berekspresi sah-sah saja bila mengaitkan isu kebebasan orang mau membuat karya apa saja. Penulis juga sepakat bila menghambat kreatifitas adalah juga pelanggaran HAM.
Ketiga, Penulis juga berharap kedepan bangsa Indonesia juga harus menjadi bangsa yang berpikir, bukan sekadar ‘mengunyah permen karet yang datang dari luar’ yang terasa enak tapi tak jelas apa manfaatnya.
Keempat, adanya Miss World ini seyogyanya di jadikan “hikmah” untuk semua, hikmah untuk semakin “memperkuat cinta akan budaya sendiri”. Penulis pikir pudarnya budaya asli Indonesia yang berupa “rendahnya cinta budaya daerah” disebabkan oleh masyarakat Indonesia sendiri yang mulai berusaha meninggalkannya. Yang masih banyak orang menganggap budaya daerah adalah budaya kolot, sehingga logikanya kita sendirilah yang telah membunuh budaya sendiri.Budaya asli Indonesia mulai bergeser ketika masyarakat mulai menganggap modernitas sebagai suatu budaya y ang sempurna. Ketika modern telah mengglobalisasi membuat tradisi menjadi “malu” menunjukkan dirinya sehingga kebudayaan menjadi “hilang” dan ketika kita mulai menggali kebudayaan ketika itu kita temui kebudayaan telah dibunuh oleh modernisasi. Kondisi “era” sekarang ini memang tidak mudah dalam menghadapi arus globalisasi. Tak heran jika budaya Indonesia saat ini semakin tergerus. Ada gejala, misalnya anak muda lebih suka budaya Korea ketimbang budaya Indonesia atau lagu-lagu Indonesia. Mungkin itu dapat melemahkan nasionalisme kita. Padahal sebenarnya kita memiliki suatu pemikiran starategis untuk menghadapi arus globalisasi, kita memiliki kekuatan yakni keberagaman.
Dan Kelima, adanya Miss World ini seyogyanya di jadikan “jalan” untuk “menggali adat ketimuran kita”. Menurut penulis, pudarnya adat ketimuran yang selalu diajarkan oleh budaya-budaya yang ada di Indonesia adalah salah satu faktor utama yang menempa sikap mental buruk masyarakat kurun waktu belakangan ini. Contohnya: saat ini orang lebih sibuk dijejaring sosial, selalu memperhatikan teman-temannya di jejaring, tetapi teman yang berada di sampingnya sedang sakit dia tidak tahu. Dan saat ini bapak dan anak, kakek dan cucu, adik dan kakak itu berteman di jejaring sosial, yang mengakibatkan bahasa diantara mereka tidak lagi memperhatikan tata berbahasa. Padahal sejatinya, bahwa bahasa yang dipakai di jejaring sosial merupakan bahasa yang tidak mengenal tingkatan umur. Jadi mereka di jejaring itu berbahasa mendatar, tidak ada lagi bahasa mendaki untuk berkomunikasi dengan yang lebih tua, dan bahasa menurun ke yang lebih muda, sehingga hormat kepada bapak jadi hilang dan santun ke anak jadi tidak ada.
Terakhir, substansi penting dalam tulisan “Pro kontra Miss World 2013 ini” adalah “bangsa ini seyogyanya untuk terus belajar”, dan tentunya belajar untuk meng-counter gelombang budaya asing. Dan yang dibutuhkan bangsa kita hari ini adalah rumusan kembali arah ke-Indonesiaan. Ini yang sering dilupakan orang. Kita memerlukan sebuah konsep baru dengan konsep landasan sebelumnya. Itu yang mungkin perlu dirumuskan.






Catatan Kontes Miss World

Catatan Pemenang

  • Kiki Håkansson dari Swedia, Miss World 1951 berkuasa untuk periode terpanjang dalam sejarah Miss World: 475 hari (hampir 16 bulan) sejak dia dinobatkan pada 29 Juli 1951 di London, Inggris.[20][21]

Catatan Peserta

  • Miss World tetap menjadi satu-satunya dari kontes internasional utama dengan dua pemenang mengundurkan diri atau dicopot: Miss World mengganti Helen Morgan di tahun 1974 dan Gabriela Brum di tahun 1980.
  • Delapan pemenang Miss World menempati tempat sebagai runners-up atau semi-finalis di kontes Miss Universe. Mereka adalah: Susana Duijm—semi-finalis, Venezuela 1955; Corine Rottschäfer—semi-finalis, Holland 1958; Rosemarie Frankland—runner-up 1, Wales 1961; Madeleine Hartog Bell—semi-finalis, Peru 1966; Eva Rueber-Staier—semi-finalis, Austria 1969; Helen Morgan—runner-up 1, Wales 1974 (dicopot); Gina Swainson—runner-up 1, Bermuda 1979 dan Agbani Darego—semi-finalis, Nigeria 2001.
  • Sophie Perin dari Perancis adalah delegasi di ajang Miss Universe dan Miss World yang tidak menempati tempat di kedua kontes tersebut dan di kemudian hari memenangkan gelar Miss International di tahun 1976.

Lokasi

Untuk daftar penuh lokasi penyelenggaraan, lihat Daftar pemegang titel Miss World.
  • Diluar Britania Raya, Afrika Selatan telah menyelenggarakan kontes Miss World terbanyak, yakni tujuh kali, diantaranya:
  • Selain Inggris dan Afrika Selatan, negara-negara lain untuk menjadi tuan rumah kontes lebih dari sekali adalah:

Perhelatan kontes Miss World sudah berlangsung di Bali. Bahkan, rangkaian kontes kecantikan sejagad itu memasuki hari kelima. Pemerintah pun merevisi izin yang diberikan kepada panitia untuk menggelar acara puncak kontes Miss World di Jakarta dan Bogor pada 28 September 2013.

Meski seluruh kegiatan Miss World diprediksi hanya dilakukan di Bali, namun prediksi itu tidak menyurutkan langkah kelompok kontra hajat akbar dunia itu untuk menggelar aksi penolakan. Isu yang berkembang, kelompok kontra Miss World dari Front Pembela Islam (FPI) akan memasuki Bali melalui Pelabuhan Ketapang. Info ini tersebar melalui pesan singkat (SMS) dan BlackBerry Messenger (BBM).

Namun, Kapolda Bali, Inspektur Jenderal Arif Wachyunadi membantah hal tersebut. "Kata siapa informasi itu? Saya belum dengar. Kasih tahu saya informasi itu dari siapa, nanti biar saya tanya ke mereka," kata Arif usai serah terima jabatan sejumlah kapolres di lingkup Polda Bali, akhir pekan lalu (12/9).

Arif menegaskan, sejak awal polda sudah melakukan pengamanan ketat terhadap perhelatan Miss World. Termasuk jika seluruh kegiatan yang terkait kontes itu akan dipusatkan di beberapa lokasi di Bali, Arif mengaku institusinya siap memberikan pengamanan prima.

"Dari awal kami sudah lakukan pengamanan. Termasuk jika seluruh rangkaian kegiatan Miss World dipusatkan di Bali, kita amankan," tegas dia.

Arif yang masuk dalam daftar mutasi Kapolda itu menjamin tak ada ormas yang akan mengganggu jalannya kontes Miss World, termasuk FPI yang dikabarkan sudah sampai Banyuwangi, Jawa Timur. "Kita amankan saja. Saya belum dengar tuh. Semuanya kita amankan. Sampai hari ini aman," imbuh pria kelahiran Bogor, Jawa Barat tersebut.

Sebelumnya beredar luas di kalangan masyarakat jika FPI akan masuk ke Bali esok hari, Sabtu 14 September 2013. Informasi itu berkembang melalui SMS dan BBM. Berikut isi pesan berantai itu:

Sabtu 14 Sept 2013 sek jam. 09.00 wib, s/d selesai, ada rencana kegiatan unjukrasa dari FPI, yg diikuti beberapa daerah kab. di luar wil. Kab. Bwgi, agenda  blokade Pelabuhan penyebrangan ASDP ketapang Bwgi, dan ada renc. Setelah unjuk rasa, akan memaksa menyeberang ke Bali, menuju lokasi dilaksanakannya MISS. WORLD, di Bali, pengerahan Massa -+1000 org di kordinir oleh Ketua FPI Jtm. Krn Fatwa MUI telah menolak kontes Miss World di Indonesia (info dr IK Polres Banyuwangi) 
Dhia Prekasha Yoedha
Pengamat Sosial dan Budaya Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati menegaskan, saat ini bukan saatnya lagi memperdebatkan isu ajang Miss World sebagai ajang memamerkan kecantikan dan tubuh wanita versi kelompok tertentu.

Tetapi ajang tersebut merupakan sebuah kegiatan positif yang diikuti 130 negara, untuk menyampaikan pesan politik dan sebagai duta bagi negara yang diwakili tiap kontestan.

"Saat ini sudah bukan saatnya lagi mengedepankan isu pamerkan tubuh wanita, bukan isu itu lagi. Tetapi ajang Miss World dapat memberikan manfaat bagi tiap kontestan menyampaikan yang terbaik tentang negaranya, tentunya memang harus dipilih yang terbaik," tegasnya, Minggu (22/09/2013) malam.

Devie menjelaskan, dari 130 negara tentunya memiliki ideologi yang berbeda-beda. Salah satunya Indonesia tetap berpegang teguh pada ideologi Pancasila.

"Penolakan itu pasti tetap terjadi dimanapun, tetapi ajang ini lebih kepada kesempatan berdiplomasi oleh para kontestan menyampaikan pesan politiknya," papar dosen Vokasi UI ini.
PENYELENGGARAAN Miss World di Bali dijamin aman, termasuk dari upaya ormas atau pihak lain yang akan menggagalkan perhelatan tahunan tingkat internasional tersebut. Hal ini disampaikan Kapolda Bali Irjen Pol Arif Wachyunadi.

Arif memastikan bahwa kesiapan dari aparat keamanan sekaligus menanggapi isu atau kabar yang banyak beredar di BlackBerry dan media sosial lainnya jika ada ormas penentang Miss World akan masuk ke Bali.

Dia mengatakan, sejak awal pihaknya telah melakukan langkah pengamanan secara ketat terhadap perhelatan Miss World, mulai dari setiap pintu masuk utama pelabuhan ke Bali. Demikian juga pengamanan dilakukan di setiap lokasi atau venue yang menjadi tempat kegiatan kontenstan dari 130 negara itu.

Apabila seluruh kegiatan Miss World akan dipusatkan di Bali, Arif mengaku bahwa institusinya siap memberikan pengamanan prima.

"Sejak awal, kami siap melakukan pengamanan. Termasuk jika kemudian seluruh kegiatan Miss World dipusatkan di Bali, pasti kita amankan," tegas Arif usai serah terima jabatan beberapa Kapolres se-Bali di Mapolda, Jumat malam, 13 September 2013.

Dia juga menjamin, tidak ada ormas yang akan mengganggu jalannya perhelatan Miss World. Jika memang ada indikasi pergerakan ormas yang mau mengacaukan, tentu akan diantisipasi sejak dini agar mereka tidak bisa masuk ke Bali.

"Ya pasti kita amankan. Sampai saat ini saya belum ada informasi itu (ormas ke Bali), hari ini aman," jelas Arif yang sebentar lagi akan meletakkan jabatan sebagai Kapolda Bali.

Menanggapi isu akan datangnya kelompok penolak Miss World seperti dari Front Pembela Islam (FPI) akan memasuki Bali melalui Pelabuhan Ketapang, Arif menepis hal itu.

"Informasi dari mana itu, saya belum dengar. Coba beri tahu informasinya siapa, biar saya tanya ke mereka," imbuh pria asal Bogor Jawa Barat itu.

127 delegasi yang terdaftar :
Negara/Teritorial
Kontestan
Usia
Tinggi
Daerah Asal
Marilyn Ramos[21]
22
1.74 m (5 ft 9 in)
Ersela Kunti[22]
22
1.76 m (5 ft 9 in)
Olivia Jordan[23]
22
1.80 m (5 ft 11 in)
Maria Castelo[24]
23
1.63 m (5 ft 4 in)
Teresa Kuster[25]
24
1.74 m (5 ft 9 in)
Larisa Leeuwe[26]
22
1.74 m (5 ft 9 in)
Erin Holland[27]
24
1.77 m (5 ft 10 in)
Ena Kadić[28]
23
1.76 m (5 ft 9 in)
De'Andra Bannister[29]
23
1.78 m (5 ft 9 1/2 in)
Regina Ramjit[30]
19
1.72 m (5 ft 8 in)
Jacqueline Steenbeek[31]
23
1.76 m (5 ft 9 in)
Maryia Vialichka[32]
22
1.75 m (5 ft 9 in)
Noémie Happart[33]
19
1.78 m (5 ft 10 in)
Idolly Louise Saldivar[34]
22
1.78 m (5 ft 10 in)
Katherine Arnfield[35]
17
1.73 m (5 ft 8 in)
Alejandra Castillo[36]
20
1.79 m (5 ft 10 1⁄2 in)
Sanda Gutić[37]
19
1.78 m (5 ft 10 in)
Rosemary Keofitlhetse[38]
20
1.78 m (5 ft 10 in)
Sancler Frantz[39]
21
1.75 m (5 ft 9 in)
Nansi Karaboycheva[40]
20
1.70 m (5 ft 7 in)
Camille Munro[41]
22
1.70 m (5 ft 7 in)
Camila Andrade[42]
22
1.68 m (5 ft 6 in)
Yu Weiwei[43]
25
1.76 m (5 ft 9 in)
Cinzia Chang[44]
21
1.78 m (5 ft 10 in)
Daniela Ocoro[45]
23
1.70 m (5 ft 7 in)
Yarly Marín[46]
23
1.68 m (5 ft 6 in)
Aïssata Dia Ezzedine[47]
18
1.83 m (6 ft 0 in)
Xafira Urselita[48]
17
1.75 m (5 ft 9 in)
Kristy Agapiou[49]
21
1.74 m (5 ft 9 in)
Malene Sørensen[50]
20
1.80 m (5 ft 11 in)
Leslassa Armour-Shillingford[51]
19
1.69 m (5 ft 7 in)
Laritza Párraga[52]
19
1.73 m (5 ft 8 in)
Paola Ayala[53]
18
1.69 m (5 ft 7 in)
Kirsty Heslewood[54]
24
1.77 m (5 ft 10 in)
Bishop's Stortford
Restituta Nguema[55]
19
1.70 m (5 ft 7 in)
Genet Tsegay[56]
21
1.73 m (5 ft 8 in)
 Fiji
Caireen Erbsleben[57]
21
1.60 m (5 ft 3 in)
Megan Lynne Young[58]
23
1.675 m (5 ft 6 in)
Maija Kerisalmi[59]
20
1.77 m (5 ft 10 in)
Brunilla Moussadingou[60]
20
1.75 m (5 ft 9 in)
Tamar Shedania [61]
20
1.78 m (5 ft 10 in)
Carranzar Shooter[62]
22
1.67 m (5 ft 6 in)
Maroua Kharbouch[63]
22
1.73 m (5 ft 8 in)
Sheryna van der Koelen[64]
21
1.71 m (5 ft 7 in)
 Guam
Camarin Mendiola[65]
17
1.70 m (5 ft 7 in)
Loraine Quinto [66]
25
1.70 m (5 ft 7 in)
Mariama Diallo[67]
22
1.72 m (5 ft 8 in)
Heny Tavares[68]
21
1.70 m (5 ft 7 in)
Ruqayyah Boyer[69]
23
1.75 m (5 ft 9 in)
Ketsia Lioudy[70]
21
1.67 m (5 ft 6 in)
Mónica Elwin[71]
19
1.69 m (5 ft 7 in)
Jacqueline Wong[72]
24
1.63 m (5 ft 4 in)
Annamária Rákosi[73]
21
1.73 m (5 ft 8 in)
Sigridur Dagbjort[74]
22
1.75 m (5 ft 9 in)
Navneet Dhillon[75]
20
1.75 m (5 ft 9 in)
17
1.78 m (5 ft 10 in)
Aoife Walsh[77]
23
1.70 m (5 ft 7 in)
Sarah Baderna[78]
22
1.77 m (5 ft 10 in)
Gina Hargitay[79]
18
1.78 m (5 ft 10 in)
Amina Sabbah[80]
18
1.71 m (5 ft 7 in)
Michiko Tanaka[81]
23
1.71 m (5 ft 7 in)
Denise Ayena[82]
22
1.80 m (5 ft 11 in)
Aynur Toleuova[83]
18
1.78 m (5 ft 10 in)
Wangui Gitonga[84]
23
1.70 m (5 ft 7 in)
Kertis Malone[85]
21
1.65 m (5 ft 5 in)
Petra Cabrera-Badia[86]
21
1.78 m (5 ft 10 in)
Zhibek Nukeyeva[87]
19
1.78 m (5 ft 10 in)
Min Ji Park[88]
24
1.70 m (5 ft 7 in)
Antigona Sejdiu[89]
19
1.76 m (5 ft 9 in)
Lana Grzetic[90]
18
1.75 m (5 ft 9 in)
Eva Dombrovska[91]
22
1.79 m (5 ft 10 in)
Karen Ghrawi[92]
22
1.74 m (5 ft 9 in)
Mamahlape Matsoso[93]
19
1.70 m (5 ft 7 in)
Rūta Mazurevičiūtė[94]
22
1.72 m (5 ft 8 in)
Kristina Spasenoska[95]
21
1.72 m (5 ft 8 in)
Melinder Kaur Bhullar[96]
20
1.75 m (5 ft 9 in)
Donna Leyland[97]
20
1.75 m (5 ft 9 in)
Julie Lebrasseur[98]
19
1.82 m (5 ft 12 in)
Nathalie Lesage[99]
18
1.75 m (5 ft 9 in)
Marilyn Chagoya[29]
19
1.81 m (5 ft 11 in)
Valeria Tsurkan[100]
18
1.76 m (5 ft 9 in)
Pagmadulam Sukhbaatar[101]
22
1.75 m (5 ft 9 in)
Ivana Milojko[102]
18
1.75 m (5 ft 9 in)
Paulina Malulu[103]
24
1.75 m (5 ft 9 in)
Ishani Shrestha[104]
22
1.75 m (5 ft 9 in)
Luz Mery Decena[105]
23
1.72 m (5 ft 8 in)
Anna Banner[106]
18
1.68 m (5 ft 6 in)
Meagan Green [107]
23
1.73 m (5 ft 8 in)
Alexandra Backström[108]
22
1.68 m (5 ft 6 in)
Virginia Hernández[109]
22
1.73 m (5 ft 8 in)
Coral Ruíz Reyes[110]
22
1.75 m (5 ft 9 in)
Marine Lorphelin[111]
20
1.76 m (5 ft 9 in)
 Peru
Elba Fahsbender[112]
21
1.79 m (5 ft 10 in)
Katarzyna Krzeszowska [113]
22
1.72 m (5 ft 8 in)
Elisabete Rodrigues[114]
20
1.74 m (5 ft 9 in)
Nadyalee Torres[115]
25
1.76 m (5 ft 9 in)
Lucie Kovandová[116]
19
1.73 m (5 ft 8 in)
Joely Bernat[117]
24
1.82 m (5 ft 12 in)
Elmira Abdrazakova[118]
18
1.67 m (5 ft 6 in)
Andreea Chiru[119]
20
1.67 m (5 ft 6 in)
Penina Paeu[120]
21
1.75 m (5 ft 9 in)
Jamey Bowers[121]
24
1.74 m (5 ft 9 in)
Trevicia Adams[122]
22
1.68 m (5 ft 6 in)
Ella Langsford [123]
20
1.76 m (5 ft 9 in)
Aleksandra Doknic[124]
19
1.76 m (5 ft 9 in)
Agnes Emmanuel[125]
19
1.75 m (5 ft 9 in)
Maria-Anna Zenieris[126]
18
1.73 m (5 ft 8 in)
Karolína Chomisteková[127]
19
1.76 m (5 ft 9 in)
Maja Cotič[128]
24
1.73 m (5 ft 8 in)
Elena Ibarbia Jiménez[129]
18
1.80 m (5 ft 11 in)
Iresha Asanki De Silva[130]
22
1.70 m (5 ft 7 in)
Manuela Matong[131]
21
1.65 m (5 ft 5 in)
Agneta Myhrman[132]
18
1.80 m (5 ft 11 in)
Cindy Williner[133]
18
1.70 m (5 ft 7 in)
Bridgitte Alfred[134]
20
1.72 m (5 ft 8 in)
Kanyaphak Phokesomboon[135]
22
1.70 m (5 ft 7 in)
Sherrece Villafana[136]
19
1.80 m (5 ft 11 in)
Hiba Telmoudi[137]
22
1.78 m (5 ft 10 in)
Ruveyda Oksuz[138]
19
1.80 m (5 ft 11 in)
Stellah Nantumbwe[139]
22
1.70 m (5 ft 7 in)
Anna Zayachkivska[140]
21
1.79 m (5 ft 10 in)
Rahima Ganieva[141]
18
1.66 m (5 ft 5 in)
Karen Soto[142]
21
1.79 m (5 ft 10 in)
Lại Hương Thảo[143]
22
1.70 m (5 ft 7 in)
Gabrielle Shaw[144]
19
1.68 m (5 ft 6 in)
Athina Pikraki[145]
21
1.73 m (5 ft 8 in)
Christine Mwaaba[146]
24
1.74 m (5 ft 9 in)
 sumber:
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/09/20/mtexz7-pro-dan-kontra-miss-world-2013-terus-bergulir

http://gagasanhukum.wordpress.com/2013/09/12/pro-kontra-miss-world-2013/

http://lifestyle.okezone.com/read/2013/09/14/29/865943/kapolda-jamin-miss-world-2013-di-bali-aman
http://nasional.sindonews.com/read/2013/09/23/15/786138/miss-world-bukan-ajang-pamer-kecantikan-tubuh-wanita
http://m.aktual.co/nusantara/010255kapolda-bali-fpi-bubarkan-miss-world-cuma-isu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar